Rabu, 21 Mei 2014

Makalah Cara Menghilangkan Kebiasaan Mencontek di Sekolah



KATA PENGANTAR


Puji serta syukur saya panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Esa, karena atas limpahan rahmat dan karuniaNya sehingga saya sebagai penulis dapat menyelesaikan makalah ekonomi dengan  berjudul “menghilangkan kebiasaan menyontek di SMA” Karya tulis ini disusun dalam rangka memenuhi salah satu tugas dar mata pelajaran Ekonomi.
Dalam makalah ini tersusun bagaimana cara menghilangkan tradisi pelajar baik itu tingkat atas maupun tingkat bawah kebiasaan ini mungkin takan pernah hilang. Dengan pernyataan ini kita ketahui bahwa kegiatan ini mungkin sudah biasa dilakukan dan lumrah terjadi di kalangan SMA maupun tingkat perguruan tinggi. Harapan penulis, semoga karya tulis ini bermanfaat khususnya bagi saya selaku penulis umumnya bagi kalian sebagai pembaca.
Demikian yang dapat kami sampaikan, kritik dan saran dari pembaca yang membangun sangat kami harapkan untuk kesempurnaan karya tulis ini sebagai bahan pijakan di kemudian hari dalam menciptakan karya tulis selanjutnya.
Terimakasih....

.




Garut, 03 Februari 2014


Penulis,







DAFTAR ISI


Kata pengantar…………………………………………………………………………...i

Daftar isi……………………………………………………………………………………ii

BAB I        PENDAHULUAN

a.    Latar belakang………………………………………………………........1
b.    Rumusan masalah……………………………………………………….1
c.    Maksud dan tujuan……………………………………………………….1

BAB II       ISI……………………………………………………………………………….2

BAB III      PENUTUP

a.    Kesimpulan………………………………………………………………..13
b.    Kritik dan saran …………………………………………………………..13

Daftar pustaka …………………………………………………………………………….14



BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Menyontek atau menjiplak atau ngepek menurut Kamus Bahasa Indonesia karangan W.J.S. Purwadarminta adalah mencontoh, meniru, atau mengutip tulisan, pekerjaan orang lain sebagaimana aslinya.
Sudah dimaklumi bahwa orientasi belajar siswa-siswi di sekolah hanya untuk mendapatkan nilai tinggi dan lulus ujian, lebih banyak kemampuan kognitif dari afektif dan psikomotor, inilah yang membuat mereka mengambil jalan pintas, tidak jujur dalam ujian atau melakukan praktek mencontek.
Pengalaman penulis ketika di Sekolah Dasar budaya menyontek sudah mulai ada, ketika latihan menjawab soal-soal matematika,beberapa teman-teman sudah berani melihat jawaban temanya dan menyalinnya. Di Sekolah Menengah Pertama, penulis menjadi korban teman yang nakal dan malas yang secara tiba-tiba mengambil jawaban penulis dan menyalinnya di lembar jawabannya, perbuatan ini tidak bisa dicegah karena ada rasa takut dan kasihan dengannya. Bahkan terkadang mereka tanpa takut dan malu melihat buku catatan dan meminta jawaban kepada teman yang dianggap pintar ketika ujian. Perbuatan ini mungkin saja diketahui oleh pengawas atau guru mata pelajaran yang diujikan, atau mungkin pula mereka pura-pura tidak tahu, entahlah yang jelas nilai ujian mereka ternyata hasilnya cukup baik.
Ketika penulis berada di Sekolah Menengah Atas, masalah ini semakin banyak saja, dan suatu peristiswa yang penulis saksikan seorang juara kelas dibuat malu oleh gurunya karena dicurigai bekerjasama dalam ulangan harian sehingga harus ulangan harian lagi bersama-sama siswa-siswi yang dicurigai menyontek atau bekerja sama. Padahal menurut penulis pada waktu itu tidak mungkin seorang juara kelas menyontek, pasti jawabannya yang dicontek teman yang lain sehingga jawaban mereka sama semua.
Jika ini terus dibiarkan saja oleh kita sebagai guru, orang tua murid, pemerhati pendidikan, pejabat pemerintah dan semua komponen masyarakat lainnya, maka dunia pendidikan tidak akan maju, malahan menciptakan manusia tidak jujur, malas, yang cenderung mencari jalan pintas dalam segala sesuatu dan akhirnya menjadi manusia yang menghalalkan segala cara untukmencapai tujuan yang diinginkannya.

B. RUMUSAN MASALAH
          Dalam makalah ini tersusun beberapa rumusan masalah antara lain?
1)    Apa Sebab sebab orang menyontek?
2)    Apa dampak yang di dapat dari mencontek?
3)    Bagaimana cara menanggulangi kebiasaan mencontek?

C. MAKSUD DAN TUJUAN
Sesuai dengan permasalahan diatas, tujuan utama yang ingin dicapai dalam penulisan karya tulis ini adalah membuat para siswa sadar akan kebiasaan menyontek adalah hal yang buruk. Selain itu, menyontek melatih diri untuk melakukan perbuatan curang. Kebiasaan menyontek juga menimbulkan kerugian untuk diri sendiri maupun orang lain. Siswa – siswi yang menyontek dapat mengetahui dampak dan kerugian menyontek sehingga diharpakan akan mengurangi kegiatan menyontek.



BAB II
ISI/PEMBAHASAN

B. Tinjauan Teori
1. Pengertian menyontek
Dalam artikel yang ditulis oleh Alhadza (2004) kata menyontek sama dengan cheating. Beliau mengutif pendapat Bower (1964) yang mengatakan cheating adalah perbuatan yang menggunakan cara-cara yang tidak sah untuk tujuan yang sah/terhormat yaitu mendapatkan keberhasilan akademis atau menghindari kegagalan akademis. Sedang menurut Deighton (1971), cheating adalah upaya yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan keberhasilan dengan cara-cara yang tidak fair (tidak jujur).
2. Katagori Menyontek
Menyontek dapat dikatagorikan dalam dua bagian ; pertama menyontek dengan usaha sendiri; kedua dengan kerjasama. Usaha sendiri disini adalah dengan membuat catatan sendiri, buka buku, dengan alat bantu lain seperti membuat coretan-coretan dikertas kecil, rumus ditangan, di kerah baju, bisa juga dengan mencuri jawaban teman Kerjasama dengan teman dengan cara membuat kesepakatan terlebih dahulu dan membuat kode-kode tertentu atau meminta jawaban kepada teman.
Yesmil Anwar (dalam Rakasiwi, 2007) mengatakan, sebenarnya nilai hanya menjadi alat untuk mencapai tujuan dan bukan tujuan dari pendidikan itu sendiri. Karena pendidikan sejatinya adalah sebuah proses manusia mencari pencerahan dari ketidaktahuan. Yesmil Anwar, mengungkapkan, bahwa menyontek telanjur dianggap sepele oleh masyarakat. Padahal, bahayanya sangat luar biasa. Bahaya buat si anak didik sekaligus untuk masa depan pendidikan Indonesia. Ibarat jarum kecil di bagian karburator motor. Sekali saja jarum itu rusak, mesin motor pun mati.
3. Tinjauan Psikologi Tentang Menyontek atau Cheating
Menurut, Dien F. Iqbal, dosen Fakultas Psikologi Unpad, seperti yang dikutip Rakasiwi (2007) orang menyontek disebabkan faktor dari dalam dan di luar dirinya. Dalam ilmu psikologi, ada yang disebut konsep diri dan harga diri. Konsep diri merupakan gambaran apa yang orang-orang bayangkan, nilai dan rasakan tentang dirinya sendiri. Misalnya, anggapan bahwa, "Saya adalah orang pintar". Anggapan itu lalu akan memunculkan kompenen afektif yang disebut harga diri. Namun, anggapan seperti itu bisa runtuh, terutama saat berhadapan dengan lingkungan di luar pribadinya. Di mana sebagai kelompok, maka harus sepenanggungan dan senasib. Senang bersama, duka mesti dibagi.
Menurut Bandura (dalam Vegawati, Oki dan Noviani, 2004), fungsi psikologis merupakan hubungan timbal balik yang interdependen dan berlangsung terus menerus antara faktor individu, tingkah laku, dan lingkungan. Dalam hal ini, faktor penentu tingkah laku internal (a.l., keyakinan dan harapan), serta faktor penentu eksternal (a.l., "hadiah" dan "hukuman") merupakan bagian dari sistem pengaruh yang saling berinteraksi. Proses interaksi yang terjadi dalam individu terdiri dari empat proses, yaitu atensi, retensi, reproduksi motorik, dan motivasi
4. Analisis Masalah Alasan alasan menyontek.
Dalam tulisan ini penulis ingin memaparkan kenapa perbuatan mencontek sering terjadi dikalangan pelajar, apa dampaknya dan bagaimana mengatasinya.
Menurut Alhadza (2004) dalam makalahnya mengenai masalah menyontek yang ia istilahkan dengan cheating menyebarkan kuesioner dengan pertanyaan terbuka kepada sekitar 60 orang teman mahasiswa di PPS UNJ. Dari hasil kuisioner tersebut didapatkan jawaban tentang alasan seseorang melakukan cheating dengan pengelompokan sebagai berikut.
1. Karena terpengaruh setelah melihat orang lain melakukan cheating meskipun pada awalnya tidak ada niat melakukannya.
2. Terpaksa membuka buku karena pertanyaan ujian terlalu membuku (buku sentris) sehingga memaksa peserta ujian harus menghapal kata demi kata dari buku teks.
3. Merasa dosen/guru kurang adil dan diskriminatif dalam pemberian nilai.
4. Adanya peluang karena pengawasan yang tidak ketat.
5. Takut gagal. Yang bersangkutan tidak siap menghadapi ujian tetapi tidak mau menundanya dan tidak mau gagal.
6. Ingin mendapatkan nilai tinggi tetapi tidak bersedia mengimbangi dengan belajar keras atau serius.
7. Tidak percaya diri. Sebenarya yang bersangkutan sudah belajar teratur tetapi ada kekhawatiran akan lupa lalu akan menimbulkan kefatalan, sehingga perlu diantisipasi dengan membawa catatan kecil.
8. Terlalu cemas menghadapi ujian sehingga hilang ingatan sama sekali lalu terpaksa buka buku atau bertanya kepada teman yang duduk berdekatan.
9. Merasa sudah sulit menghafal atau mengingat karena faktor usia, sementara soal yang dibuat penguji sangat menekankan kepada kemampuan mengingat.
10. Mencari jalan pintas dengan pertimbangan daripada mempelajari sesuatu yang belum tentu keluar lebih baik mencari bocoran soal.
11. Menganggap sistem penilaian tidak objektif, sehingga pendekatan pribadi kepada dosen/guru lebih efektif daripada belajar serius.
12. Penugasan guru/dosen yang tidak rasional yang mengakibatkan siswa/mahasiswa terdesak sehingga terpaksa menempuh segala macam cara.
13. Yakin bahwa dosen/guru tidak akan memeriksa tugas yang diberikan berdasarkan pengalaman sebelumnya sehingga bermaksud membalas dengan mengelabui dosen/guru yang bersangkutan.
Dampak yang timbul dari praktek menyontek yang secara terus menerus dilakukan akan mengakibatkan ketidakjujuran Jika tidak, niscaya akan muncul malapetaka: peserta didik akan menanam kebiasaan berbuat tidak jujur, yang pada saatnya nanti akan menjadi kandidat koruptor. (Poedjinoegroho, 2006)
Pengajaran yang orientasinya siswa mampu menjawab soal dan bukan pada pengertian serta pengembangan inovasi dan kreatifitas siswa akan menumbuhkan kebosanan, kejenuhan, suasana monoton yang dapat berakibat stress. Sudah waktunya sistem pendidikan kita bersifat two way communication antara guru/dosen dan siswa/mahasiswa. Kelompok kerja makalah, presentasi, pembuatan alat peraga, studi lapangan (misalnya ke pabrik salah satu orang tua siswa) kiranya lebih digiatkan daripada menimbuni siswa/mahasiswa dengan soal-soal yang banyak tapi dikerjakan dengan menyontek. (Widiawan,1995)

Jika masalah mencontek ini masih saja dianggap sepele oleh semua orang, tidak akan respon dan tanggapan dari guru, kepala sekolah, pengawas, dinas pendidkan para pakar pendidikan dan pengambil kebijakan dalam bidang pendidikan, penulis pesimis dunia pendidikan akan maju, kreatifitas siswa akan hilang yang tumbuh mungkin orang-orang yang tidak jujur yang bekerja disemua sektor kehidupan.

5. Rekomendasi
Mencermati kasus yang terjadi dan berdasarkan pengalaman penulis sendiri sebagai seorang pelajar dan mahasiswa, sepertinya perbuatan mencontek ini susah sekali untuk dihilangkan. Paling tidak penulis sebagai bagian dari pendidik dapat meminimalisir perbuatan mencontek tersebut sesuai dengan kemampuan, dan ilmu yang penulis miliki.
Sebagai guru penulis sudah berusaha menjauhkan para siswa dari menyontek dengan memotivasi mereka agar percaya diri, yakin akan kemampuannya dan selalu berbuat jujur. Untuk menentukan nilai siswa hasil ulangan atau ujian bukan menjadi ukuran, karena pengalaman sebagai siswa sudah cukup memberi pelajaran bahwa semua siswa ingin dihargai, namun yang pantas dihargai adalah siswa yang jujur dalam segala hal. Sehingga penulis punya catatan tentang kemampuan siswa, karakteristiknya data-data keluarga dan lain sebagainya. Penulis sering memberi tes secara lisan karena cara ini dianggap efektif menimalisir cheating tersebut.
Pemberian tes lisan ini dilakukan penulis secara bertahap, tidak sekaligus pada waktu ulangan atau ujian, karena cara ini menggunakan waktu yang lama. Disamping itu tes tulisan juga masih digunakan sebagai pembanding kemampuan siswa-siswi

6. Cara menghilangkan kebiasaan menyontek

·         Cara umum antara lain:
  1. Belajar, itu mutlak harus dilakukan. Ingat! jangan belajar pas saat mau ujian, "ketinggalan kereta" nantinya, nati ujung-ujungnya nyontek lagi kalau belajarnya nanggungbegitu.
  2. Rajin beribadah seperti sholat, berdoa dan kegiatan-kegiatan yang bisa mengingatkan kamu bahwa ada Tuhan yang selalu menjawab usaha para hambanya. Selalalu belajar bersyukur atas usah yang kita kerjakan.
  3. Jika tidak bisa mengurangi kebiasaan, mulailah sedikit demi sedikit dan lama-lama akan menjadi hilang sama sekali.
  4. Usahakan jangan duduk dengan teman yang lebih pandai, kurang lebih 80 % akan menarik perhatian kamu untuk menyontek.
  5. Ingatlah kedua orang tua saat mengerjakan ujian yang memliki harapan besar pada kamu. Pasti jadi terharu dan akhirnya mengurungkan niatmu untuk mencontek.
  6. Jauhkan benda-benda yang dapan memediasi kamu untuk menyontek seperti buku, tempat pensil yang berisi contekan, hand phone, dan yang lainnya.
  7. Bayangkan guru kamu yang killer saat mengerjakan soal, walaupun yan mengawas saat itu adalah guru yang bukan killer.
  8. Tingkatkan kepercayaan diri, dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi, maka kita tidak akan mau melihat hasil orang lain.
  9. Perbanyak pengetahuan, dengan tingkat pengetahuan yang tinggi maka kita akan lebih percaya terhadap diri sendiri dan tidak akan mau mencontek.
  10. Lawan rasa malas, memang sungguh sulit untuk mengusir rasa malas yang ada pada diri bagi orang yang pada awalnya telah terbiasa dengan bermalas-malasan, namun apabila telah memulai untuk rajin belajar maka lama-kelamaan kita akan mempunyai kebiasaan untuk terus belajar sehingga kinerja otak kita terus terasah
  11. Kurangi kuantitas mencontek, apabila biasanya dalam ulangan kita banyak mencontek, maka kita kurangi dengan mencontek setengah demi setengah. contoh: setiap ulangan rata-rata kita mencontek 15 soal pg, kita kurangi setengahnya pada ulangan berikutnya jadi hanya mencontek 8 soal, kemudian terus kurangi sampai mencapai 1 soal dan dari sana kita bisa menghilangkannya.
  12. Buatlah jadwal kegiatan, kita bisa menjadwal kegiatan kita sehari hari dari mulai kita bangun sampai kita istirahat, sehingga anda tidak akan dibingungkan oleh tumpukan tugas yang belum selesai.
  13. Tingkatkan kedisiplinan, anda pasti telah sering mendengar kata “Disiplin kunci keberhasilan”, maka dari itu disiplinlah dalam menjalankan jadwal kegiatan.
  14. Mulailah secepatnya, apabila anda ingin menghilangkan kebiasaan mencontek anda tidak boleh menunda-nunda waktu, karena apabila terus menunda-nunda semua tugas akan menumpuk dan itu menyebabkan suatu kemalasan dalam mengerjakan semua tugas.
·         Cara khusus dengan mensosialisasikan tentang pelarangan mencontek ke pihak terkait:
a. Guru
Masalah nyontek dimanapun sekolahan pasti ada, namun prosentasenya berpariasi, tergantung dari sekolah masing-masing. Sekolah semakin kurang berkwalitas berindikasi prosentase anak menyontek semakin besar, namun tidak semua benar, tergantung dari visi dan misi serta gurunya masing-masing. menghentikan praktek kotor ini
Dimulai dari guru harus bertindak sportif dalam mengambil sangsi kalau ada pelanggaran, merupakan langkah pertama. Setiap guru mengadakan ulangan, jika ada anak yang berbuat kotor (nyontek,nurun dsb) harus cepat diambil tindakan, dan jangan sampai timbul kesempatan berikutnya.
b. Murid
Sosialisasi perang melawan nyontek sama dengan perang melawan narkoba. Pelan namun pasti kalau murid mengerti dan menyadari akibat dari ngerpek, tentunya akan perlahan praktek kotor itu akan bisa hilang.
Kalau dari guru sudah tidak memberikan kesempatan pada murid untuk melakukan praktek kotor itu, tentunya berdampak langsung pada murid. Sedangan murid akan mulai bertindak sportif menerima proses penyembuhan penyakit ini.
c. Orang tua/wali murid
Perlu diberi tahu tentang pentingnya program melawan menyontek. Kalau semua sudah menyadari bahwa tidak ada untungnya praktek menyontek, akan semakin lancar dalam perjalanan mebasmi nyontek itu.
d. Guru Sekolah Dasar
Kerjasama yang erat antara sekolah baik lintas SD,SMP dan SMU/sederajat untuk membvasmi program tersebut sangat penting, sehingga tidak ada ruang gerak bagi anak untuk melakukan praktek kotor itu.

·         Membuat perjanjian dengan murid.
Ini adalah cara terakhir jadi sebelum anda memberikan ulangan ataupun tugas kepada anak didik anda, ada baiknya memberikan perjanjian berupa sangsi yang tegas atau membuat perjanjian dengan doa.
Misalkan :
1.    Anak- anak sekarang kita ulangan ekonomi tapi sebelumnya ibu akan membuat perjanjian apabila salahsatu dari kalian ada yang ketahuan mencontek maka dengan sangat hormat ibu akan menyobek lembar jawaban ulangan kamu dan langsung memberikan nilai nol.
(cara ini lumayan manjur setidaknya ada tekanan dari anda sebagai pendidk yang membuat takut anak didik anda sehingga takala akan melakukan kegiatan menyontek dia akan berpikir 2 kali untuk melakukan itu.
2.    Anak- anak sekarang kita ulangan ekonomi tapi sebelumnya ibu akan membuat perjanjian apabila salahsatu dari kalian ada yang ketahuan mencontek maka dengan ibu doakan kamu akan sakit gigi selama 7 hari.
(yah walaupun ini tidak baik karena mendoakan yang tidak baik kepada orang lain tapi apabila ini dilakukan semata-mata untuk menjadi penekan agar anak didik tidak melakukan proses mencontek kenapa tidak untuk melakukan hal tersebut toh ini juga untk kebaikan)





BAB VI
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Kata menyontek mungkin sudah tidak asing lagi bagi pelajar dan mahasiswa. Setiap orang pasti ingin mendapat nilai yang baik dalam ujian, dan sudah tentu berbagai macam cara dilakukan untuk mencapai tujuan itu. Masalah menyontek selalu terkait dengan tes atau ujian. Banyak orang beranggapan menyontek sebagai masalah yang biasa saja, namun ada juga yang memandang serius masalah ini.
Dalam mengupayakan menghilangkan kebiasaan mencontek sangat sulit karena ini sudah menjadi tradisi turun temurun dan tidak terelakan lagi tapi sebagai solusi awalnya cara menghilangkannya dimulai dari langkah langkah dan tips sederhana diatas dan jika ini berjalan secara berangsur-angsur di dunia ini tiada yang tidak mungkin, dan mungkin saja praktek percontek menyontekan juga bisa hilang.
B. SARAN-SARAN
            Saya sangat membutuhkan kritik dan saran anda untuk menciptakan karya tulis yang lebih baik lagi sebagai acuan nanti karena saya sadar makalah ini masih jauh dari kata sempurna, maka dari pada itu saya sangat menunggu kritikan dan saran yang membangun dari pembaca sekalian.





DAFTAR PUSTAKA







perlu.html
Alwi Hasan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2001.
www.wikipedia .org

dan sumber sumber lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak !